Mengalah? Itu bukan orang Indonesia!
Saya sudah beberapa bulan ini pergi bekerja menggunakan angkutan umum. Disamping lebih irit, dan relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan membawa mobil sendiri. Menggunakan angkutan umum (bis), kita sebenarnya diuntungkan dengan ulahnya sopir bis yang menyetir bak Paul Walker di film 2 Fast 2 Furious, bedanya cuma velg bis tidak lebar, bis tidak punya body kit dan tentunya bis tidak menggunakan NOS (bayangkan jika bis pakai NOS???)
Ada sesuatu hal yang menggelitik saya saat di jalan, dan ini terjadi setiap hari di jalanan, yaitu sikap kendaraan pribadi yang tidak mau mengalah. Ilustrasinya, saat macet di jalan (pastinya terjadi pagi dan sore hari di Jakarta dong!), banyak sekali mobil yang saling mendahului, nyelip sana sini di depan bis, padahal sangat berbahaya posisinya. Karena terlalu mepetnya mobil tersebut dengan kendaraan lain di sampingnya yaitu bis. Disaat para penumpang bis yang penuh sesak dan berdiri, dan mereka yang ber-AC di dalam mobil, tidak pernah memikirkan “hmmm biarin bis dulu aja lewat, kasihan penumpangnya”. Di saat-saat begini, bis pun tidak bisa ngebut sana-sini, yang ada mereka akhirnya ngalah dengan mobil yang tiba-tiba nongol di samping depan bis. Bahkan seringkali saya saksikan saat bis yang saya tumpangi mau jalan, mereka membunyikan klakson agar bis saya menunggu mereka dulu untuk mereka bisa lewat. Padalah posisi mereka ada di belakang. Mungkin pengendara mobil tersebut sudah terlalu penat sehingga hatinya beku untuk berpikir seperti diatas dan dikarenakan juga akibat dinginnya AC mobil mereka.
Ini baru sebagian kecil dari gambaran orang Indonesia yang tidak mengenal kata “mengalah” untuk kepentingan orang banyak. Di tingkat atas, sudah sering kita lihat (dan sudah membuat saya enggan untuk melihatnya) banyak pejabat yang tidak mau mengalah. Dalam beberapa kasus pilkada misalnya, jika ada yang kalah, pasti pihak yang kalah protes, atau pendukung mereka demo sekalian bakar kantor KPUD setempat. Apakah ini yang namanya bangsa Indonesia? Kenapa tidak mengucapkan “Selamat kepada A, saya dan mengakui kekalahan, itu jauh lebih baik”.
Egoisme rakyat sudah sangat keterlaluan. Harus ada pemimpin yang bisa menyadarkan rakyatnya agar bisa saling mengalah, memberikan kesempatan untuk kepentingan orang banyak. Terkadang saya dan mungkin juga anda berpikir sampai kapan ini akan terjadi?